REVIEW UPACARA PANJANG JIMAT
UPACARA PANJANG JIMAT
IBNU ABI AUFA
1180900108
A. LATAR
BELAKANG
Salah satu bentuk kebudayaan Nasional adalah sistem ritual
upacara keagamaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Panjang Jimat merupakan salah satu tradisi kuno yang
masih dilakukan hingga saat ini. Pada proses pelaksanaan panjang jimat yang di
laksanakan pada puncak (pelal) Maulid Nabi telah banyak perubahan yang
dilakukan demi penyesuaian antara tradisi lama dengan keadaan masyarakat yang
melaksanakannya pada saat ini.
B. PENGERTIAN
Upacara Panjang Jimat yang merupakan rentetan dari acara
maulidan di Keraton Kasepuhan awalnya hanyalah sebuah upacara peringatan
kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus
sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya.
Panjang Jimat adalah sebuah ritual
tradisional yang rutin dan turun temurun di laksanakan di Keraton Cirebon
(Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah
atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan Cirebon), tiap malam 12 Rabiul Awal
atau Maulid, yakni bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan
memang, tujuan utama dari panjang jimat ini sendiri adalah untuk memperingati
dan sekaligus mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad. Sebutan Panjang Jimat
sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu Panjang dan Jimat. Panjang yang
artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi, secara etimologi, panjang
jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka paling berharga milik umat Islam
selaku umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat. Atau kalau merujuk pada
utak atik gatuk dalam bahasa Jawa Cirebon, jimat yang dimaksud adalah siji kang
dirohmat yakni, lafadz Syahadat itu sendiri.
Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah
refleksi dari proses kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan acara puncak
dari serangkaian kegiatan Maulud Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon.
“Panjang” berarti sederetan iring-iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi
itu dan “Jimat” berarti “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati yaitu
kalimat sahadat “La Illa ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah
sederetan persiapan menyongsong kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan
kalimat sahadat kepada umat di dunia.
C. PELAKSANAAN
UPACARA PANJANG JIMAT
Upacara Panjang jimat biasa
di lakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW/ Maulid Nabi. Di
Keraton Kasepuhan Panjang Jimat diturunkan oleh petugas dan ahli agama di
lingkungan kerabat kesultanan Keraton kasepuhan, yang terdiri atas:
1) Diadakan Susrana Tahap
ini diadakan di gedung/bangsal dalem. Disinilah disajikan Nasi Rosul sebanyak 7
golongan, untuk tiap-tiap golongan ditumpangkan/ditempatkan di atas
tasbih/piring besar. Petugas-petugasnya adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang
disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di belakang Bangsal Dalem yang disajikan air
mawar, kembang goyah, “serbad boreh” (panem) dan hidangan tumpeng 4
“pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang berisi kue-kue dan tempat dong-dang yang
berisis makanan, petugasnya adalah Nyi Kotif Agung, Nyi Kaum dengan disaksikan
oleh para Ratu/family kasultanan.
2) Di Gedung Bangsal
Prabayaksa yaitu sebelah utara bangsal dalem dan di bangsal Pringgadani
(sebelah utara bangsal Prabayaksa), diperuntukan bagi para undangan di tengah
ruangan dilowongkan untuk deretan upacara, terus dari Jinem ke Sri Manganti.
Adapun urutan-urutan dan
atribut-atribut yang digunakan dalam upacara Panjang Jimat ini adalah :
A. Beberapa lilin
dipasang di atas standartnya (dahulu pakai dlepak/dian)
B. Dua buah Manggaran,
dua buah Nagan dan dua buah Jantungan.
C. Kembang Goyak (Kembang
bentuk sumping) 4 (empat) kaki.
D. Serbad dua buah guci
dan dua puluh botol bir tengahan.
E. Boreh/Parem.
F. Tumpeng.
G. Ancak Sanggar
(panggung) 4 buah yang keluar dari pintu Bangsal Pringgandani.
H. 4 buah dongdang berisi
masakan, menyusul belakangan, keluar pintu Barat Bangsal
Pringgandani pula, ke teras Jinem.
Pada puncak malam 12
Rabiul Awal, yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan malam pelal inilah
diadakan ritual seremonal Panjang Jimat dengan mengarak berbagai macam barang
yang sarat akan makna filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasi
tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan
bertahta ke masjid atau mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai
hari kelahiran nabi yang suci yang dilambangkan melalui nasi jimat ini. Nasi
jimat sendiri konon berasal dari beras yang disisil (proses mengupas beras
dengan tangan dan mulut) selama setahun oleh abdi keraton perempuan yang
sepanjang hidupnya memutuskan untuk tidak pernah menikah atau disebut juga
dengan perawan sunti.
Nasi Jimat itu diarak
dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing dari mereka membawa
barang-barang yang memiliki simbol-simbol tertentu seperti lilin yang bermakna
sebagai penerang, kemudian nadaran, manggar, dan jantungan yang merupakan
simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada saat itu,
yakni Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, di belakang orang-orang yang membawa
jantungan dan sebagainya itu, menyusul barisan abdi dalem keraton yang membawa
air mawar dan kembang goyang yang melambangkan air ketuban dan ari-ari sang
jabang. Kemudian di barisan berikutnya, ada abdi dalem keraton yang pembawa air
serbat yang disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan.
Kemudian 4 baki yang menjadi lambang 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni
angin, tanah, api dan air.Iring-iringan ini yang berawal dari Bangsal
Prabayaksa akan menuju satu tempat yakni Langgar Agung di mana nantinya akan di
sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa dimaknai sebagai sosok Abu
Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut kelahiran keponakannya lahir
yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia agung pengemban amanat dari
Tuhan untuk menyebarkan agama Islam. Sesampainya di sana langgar agung itu,
nasi jimat tujuh rupa itu kemudian dibuka berikut sajian makanan lain termasuk
makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini dikenal
amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan Sunan
Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini dilakukan
shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam. Pengajian
dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu
makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat
yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar
menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila
berhasil menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam
kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal
keraton. Seiring perkembangan zaman upacara Panjang jimat juga sedikit
mengalami perubahan
D. KESIMPULAN
Upacara Panjang jimat adalah upacara yang rutin di laksanakan di
keraton kasepuhan untuk memperingati maulid nabi yang telah di lakukan turun
temurun sejak zaman wali songo, upacara tersebut masih rutin di lakukan hingga
saat ini meskipun terdapat sedikit perubahan seiring dengan perkembangan zaman.
Kita sebagai generasi muda harus terus mempertahankan tradisi leluhur kita.
Komentar
Posting Komentar